Kebahagiaan dalam Perspektif Studi Harvard dan Islam: Menyelaraskan Ilmu Pengetahuan, Al-Qur’an, dan Filsafat Tadzkiyatunnafs
Tashih by :
Abdul Rahman Ibnu Guru Anan
.
(Bidang Pendidikan, Kurikulum Ponpes. Halimatussa'diyah Nahdlatul Wathan Lendang Nangka, Bidang PPM PGNW Kec.Masbagik Lotim NTB, Angota Himp.Da'i Muda Indonesia (HDMI NTB) dan Alumnus MDQH 39 & Pascasarjan UINMA 2022)
Prolog Perspektif
Karakter tulisan ini menyampaikan perspektif Integrasi Fiqh Kontenporer dan Tashawuf Modern. Terinspirasi dari Video Andi F. Noya Jurnalis Senior Presenter MetroTV Kick Andy waktu Scrool di branda Video Media Sosial. Dalam tulisan ini menggabungkan bukti ilmiah, nilai-nilai Islam, dan filsafat tadzkiyatunnafs untuk menawarkan perspektif holistik tentang kebahagiaan. Dengan menjaga hubungan sosial dan menyucikan jiwa, manusia mencapai kebahagiaan dunia-akhirat yang Insyaa Allah paripurna.
Sahabat Muslim, An- Nahdhiyyin Rohimakumullah,
.
Assalamu'alaikum..😊🙏
Selama lebih dari 80 tahun, Harvard Study of Adult Development meneliti faktor-faktor yang mendukung kebahagiaan dan kesehatan manusia. Hasil riset ini menyimpulkan bahwa kualitas hubungan sosial—bukan kekayaan, ketenaran, atau pencapaian individu—merupakan penentu utama kebahagiaan dan umur panjang. Temuan ini selaras dengan ajaran Islam yang menekankan pentingnya menjaga hubungan baik dengan sesama (hablum minannas) dan membersihkan jiwa (tadzkiyatunnafs) sebagai fondasi kebahagiaan hakiki. Artikel ini mengintegrasikan perspektif ilmiah, Al-Qur’an, hadis, serta filsafat Islam untuk mengungkap kesamaan pandangan antara sains modern dan spiritualitas Islam.
Temuan Studi Harvard: Kualitas Hubungan sebagai Kunci Kebahagiaan
Studi Harvard yang dipimpin Robert Waldinger menyatakan:
1. Hubungan yang bermakna mengurangi risiko penyakit fisik dan mental.
2. Konflik dalam hubungan(pernikahan, keluarga, atau persahabatan) berdampak buruk pada kesehatan.
3. Kesepian sama berbahayanya dengan merokok 15 batang per hari.
4. Empati dan dukungan sosial meningkatkan kepuasan hidup.
Penelitian ini menegaskan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan kehangatan emosional dan rasa saling percaya. Kebahagiaan bukanlah pencapaian individual, melainkan hasil dari interaksi yang tulus dengan orang lain.
Al-Qur’an dan Hadis: Menjaga Silaturahmi sebagai Ibadah
Islam sejak awal menempatkan hubungan sosial sebagai bagian integral dari keimanan. Beberapa ayat dan hadis relevan dengan temuan Harvard:
1. Surah An-Nisa (4:1) Allah Swt. berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا.
Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan Kalian yang telah menciptakan kalian dari seorang diri, dan darinya Allah menciptakan istrinya; dan dari keduanya Allah memperkembang-biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. "Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kalian saling meminta satu sama lain, dan peliharalah hubungan silaturahmi (kekeluargaan). Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kalian.
Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'anul Adzhim menukil Ayat Al-Qur'an berikut:
وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا
dan darinya Allah menciptakan istrinya. (An-Nisa: 1)
Beliau menafsirkan ayat dengan riwayat, ketika Siti Hawa a.s. diciptakan oleh Allah dari tulang rusuk sebelah kiri bagian belakang Adam a.s. ketika Adam a.s. sedang tidur. Saat Adam terbangun, ia merasa kaget setelah melihatnya, lalu ia langsung jatuh cinta kepadanya. Begitu pula sebaliknya, Siti Hawa jatuh cinta kepada Adam a.s.
Artinya Nabi Adam As. dan Sayyidatuna Hawa dengan penuh kejujuran saling mengagumi dan ber-jatuh cinta.
Al Imam Abul Fida' Ibnu Katsir mengutip, sebagaimana Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Muqatil, telah menceritakan kepada kami Waki', dari Abu Hilal. dari Qatadah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan, :
"Wanita diciptakan dari laki-laki, maka keinginan wanita dijadikan terhadap laki-laki; dan laki-laki itu dijadikan dari tanah, maka keinginannya dijadikan terhadap tanah, maka pingitlah wanita-wanita kalian."
Jadi, Ayat ini menekankan pentingnya menjaga ikatan keluarga (silaturahmi) sebagai bentuk ketaqwaan.
2. Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim:
"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menyambung tali silaturahmi."
Nabi Muhammad SAW menjadikan silaturahmi sebagai indikator keimanan.
3. Surah Al-Hujurat 49: Ayat 13 Allah Swt.Berfirman :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
Stressingnya pada ayat diatas :
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
"Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa."
Yakni Takwa mencakup akhlak mulia dalam berinteraksi, bukan sekadar ritual ibadah.
4. Hadis tentang Empati:
"Tidak sempurna iman seseorang hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri." (HR. Bukhari).
Ayat dan hadis di atas menunjukkan bahwa kebahagiaan dalam Islam tidak terpisah dari kualitas hubungan sosial. Menyakiti orang lain dianggap merusak jiwa, sementara berbuat baik memperkuat spiritualitas.
Tadzkiyatunnafs: Membersihkan Jiwa melalui Hubungan yang Baik
.
Tadzkiyatunnafs (penyucian jiwa) dalam filsafat Islam bukan hanya ritual individual, melainkan proses membangun karakter yang harmonis dengan masyarakat. Konsep ini dijelaskan oleh ulama seperti:
1. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin:
Menyucikan jiwa berarti menghilangkan sifat dengki, sombong, dan egois yang merusak hubungan sosial. Al-Ghazali menulis, "Cinta kepada sesama adalah cermin cinta kepada Allah."
2. Yahya bin Mu'adz dalam Arrisalah Al Qusairiyyah,
وقال يحيى بن معاذ: حقيقة المحبة مالا ينقص بالجفاء، ولايزيد بالبر، وقال ليس بصادق من ادعى محبته ولم يحفظ حدوده.
Hakikat cinta tidak bisa berkurang karena kurangnya pemberian dan tidak bisa bertambah karena kebaikan yang diberikan kepadanya." Katanya lagi, "Tidak benar seseorang yang mengaku telah mencintai Allah, tapi ia tidak menjaga batas-batas hukum Allah.
3. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam Madarij as-Salikin:
Jiwa yang bersih (nafs al-muthma’innah) hanya tercapai ketika seseorang mampu memaafkan, berbagi, dan menjaga kepercayaan.
4. Filosofi Ukhuwah Islamiyah:
Persaudaraan dalam Islam, Allah Swt. berfirman :
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ.
Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat. (QS. Al-Hujurat : 10)
Ayat tersebut, menekankan bahwa kebahagiaan kolektif lebih utama daripada kepentingan pribadi.
Proses tadzkiyatunnafs melibatkan latihan mental untuk mengelola emosi negatif (seperti marah atau iri) yang sering menjadi sumber konflik. Ini sejalan dengan temuan Harvard bahwa resolusi konflik dan empati meningkatkan kualitas hidup.
Integrasi Sains dan Spiritualitas: Aplikasi Prakti
.
1. Silaturahmi sebagai Investasi Kebahagiaan:
Mengunjungi keluarga atau teman (meski secara virtual) sesuai hadis Nabi: "Barangsiapa ingin dilapangkan rezekinya, hendaklah ia menyambung silaturahmi." (HR. Ahmad).
2. Memprioritaskan Empati :
Al-Qur’an menyebut orang beriman sebagai "penyejuk hati" Allah Swt berfirman :
هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلامًا.
" Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati; dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik." (QS. Al-Furqan 25 Ayat 63).
Mendengarkan dan memahami perasaan orang lain adalah bentuk ibadah.
3. Memaafkan untuk Ketenangan Jiwa, Allah Swt. berfirman :
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ.
"(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS. Ali Imran (3:134)
Ibnu Guru Anan atau Abdul Rahman, QH., S.Pd.I., M.Pd atau dalam Agenda Ma'had Daarul Qur'an Wal Hadist Al Mahidiyyah As-Syafi'iyyah Nahdlatul Wathan Lombok NTB angkatan 39 dikenal dengan Abdurrahman, Q.H., bin Abdul Hannan, dengan menafsirkan Ayat Al-Qur'an bil Maudhu'i (Tafsir Thematik) menemukan Ayat tersebut sebagai jawaban ayat sebelumnya yakni orang yang bertaqwa bercirikan segera memohon ampun kepada Allah swt.
وَسارِعُوا إِلى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّماواتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ.
"Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Tuhan kalian dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa." (Q.S. Al Imran 3:133)
Dalam kontekstualnya Allah Swt memuji orang yang "menahan amarah dan memaafkan kesalahan." Studi Harvard menemukan bahwa memaafkan mengurangi stres dan meningkatkan kesehatan jantung.
Kesimpulan
Temuan Harvard tentang kebahagiaan dan hubungan sosial memperkuat ajaran Islam yang telah ada selama 14 abad. Baik sains maupun agama sepakat bahwa kebahagiaan sejati terletak pada kemampuan manusia untuk mencintai, memaafkan, dan membangun kepercayaan. Tadzkiyatunnafs tidak hanya menyucikan jiwa individu tetapi juga menciptakan harmoni sosial. Dengan merujuk Al-Qur’an, hadis, dan filsafat Islam, kita menemukan bahwa kebahagiaan adalah anugerah Allah yang diraih melalui ikhtiar menjaga hubungan baik dengan-Nya dan sesama manusia.
Referensi
1. Waldinger, R. (2015). What Makes a Good Life? Lessons from the Longest Study on Happiness. TED Talk.
2. Al-Qur’an dan Terjemahan. Kemenag RI.
3. Al Imam Abul Fida' Bin Isma'il Ibnu Katsir
4. Hadis Riwayat Bukhari, Muslim, dan Ahmad.
5. Al-Ghazali. (2011). Ihya Ulumuddin. Dar Al Kotob Al Ilmiyah.
6. Ibn Qayyim Al-Jauziyyah. (2003). Madarij as-Salikin. Dar Ibn Al-Jawzi.
7. Nasr, S. H. (2007). The Garden of Truth: The Vision and Promise of Sufism, Islam’s Mystical Tradition. HarperCollins.
Selamat bagi yang merayakan Iedul Fitri 1446 H, Mohon Maaf Lahir Bathin.

Comments
Post a Comment